Selasa, 28 Februari 2017
PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Mata
pelajaran kimia sering dianggap sebagai pelajaran yang sulit karena materi
kimia merupakan materi yang bersifat abstrak. Sebagian besar ilmu kimia merupakan
ilmu percobaan dan sebagian besar pengetahuannya diperoleh dari penelitian di laboratorium
(Chang, 2003). Belajar kimia pada dasarnya berangkat dari fakta yang ditemukan
menuju konsep mikroskopik dan submikroskopik yang kemudian disimbolkan. Sehingga
siswa cenderung lebih sulit memahami konsep mikroskopik dan submikroskopik tersebut.
Sehingga perlu dikembangkan alat bantu berupa media pembelajaran yang dapat memberikan
pengalaman yang menyeluruh dari fakta (makroskpik) menuju konsep abstrak (mikroskopik
dan sub mikroskopik).
Pembelajaran
kimia pada umumnya hanya terbatas pada penggunaan bahan ajar berupa buku teks
dan LKS sehingga siswa kurang dapat memahami konsep mikroskopik. Lemahnya
interaksi antara guru dengan siswa serta kecepatan belajar siswa yang
seringkali dianggap sama juga merupakan kendala dalam pembelajaran kimia, maka
dari itu usaha-usaha peningkatan kualitas pembelajaran kimia saat ini terus dilakukan,
termasuk peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi media pembelajaran.
Peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi media pembelajaran diharapkan
mampu mengakomodir kebutuhan siswa dalam menghadapi era teknologi informasi dan
komunikasi dengan tidak meninggalkan faktor pemahaman dan keterampilan siswa
dalam proses pembelajaran kimia. Teknologi informasi dan komunikasi seharusnya
menjadi alat sehari-hari dalam kegiatan belajar dan membelajarkan (Sitepu,
2008). Salah satu penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah
pemanfaatan internet dalam proses pembelajaran yang disebut dengan e-learning.
E-learning dapat diimplemantasikan dengan menggunakan alternatif tools yang
disebut dengan LMS (Learning Management System).
E-learning
yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi, komunikasi
dan informasi khususnya internet (Kwartolo, 2010). Sedangkan menurut Hartley
(2001), e-learning merupakan jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya
bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media
jaringan komputer lain. Secara umum e-learning mampu menyajikan pengalaman
belajar yang bermakna melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi.
E-learning memiliki beberapa keunggulan yaitu dapat memfasilitasi komunikasi
dan interaksi antara siswa dengan tenaga pengajar dan narasumber ahli, meningkatkan
kolaborasi antar siswa untuk membentuk komunitas belajar, mendorong siswa untuk
secara mandiri mencari sumber belajar dan mencapai makna, memberikan akses
keapada beragam sumber belajar (Pannen, 2005). Komunikasi dalam e-learning dilaksanakan
dengan dua cara yaitu secara langsung (synchronous training) dan tidak langsung
(asynchronous training). Menurut Susanti dan Sholeh (2008), synchronous
training adalah tipe proses kegiatan belajar mengajar yang terjadi bersamaan,
sedangkan asynchronous training adalah tipe pelatihan dimana proses
pembelajaranan tidak terjadi pada waktu yang bersamaan. Contoh synchronous
training terjadi pada saat kegiatan chat dan forum diskusi dimana guru dan
siswa melakukan kegiatan online pada saat bersamaan dan terjadi interaksi. Sedangkan
contoh kegiatan asynchronous training adalah ketika siswa belajar dan
mengajukan pertanyaan dalam e-learning, akan tetapi guru tidak menjawab pada
saat yang bersamaan. Namun, terdapat beberapa kelemahan e-learning yaitu
e-learning membutuhkan dukungan jaringan yang tepat dan stabil, banyak guru
yang belum siap menggunakan e-learning dan memanfaatkan internet dalam proses
pembelajaran, serta keterbatasan jumlah computer yang dimiliki siswa juga dapat
menghambat penggunaan e-learning.
Langkah-langkah
Penyusunan Program Sistem Pembelajaran Berbasis E-Learning
a. Perencanaan
Awal
1. Mengidentifikasi
tujuan, kebutuhan dan masalah yang muncul dalam pembelajaran.
2. Analisis karakteristik siswa yang akan menggunakan dan
pelajari materi yang akan dikembangkan.
3.
Mempertimbangkan strategi pembelajaran.
b.
Menyiapkan Materi
1.
Menguasai materi dan metodologi pengajaran.
2.
Menguasai prosedur pengembangan media.
3.
Menguasai teknik pemograman komputer.
4.
Mengetahui keterbatasan komputer.
c.
Mendesain Paket Program Pembelajaran
Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah memperkenalkan
materi baru untuk melengkapi atau menguatkan pelajaran yang telah berlangsung dengan
media lain.
d.
Menvalidasi Paket Program Pembelajaran
Memvalidasi paket program membuktikan validitasnya secara
empiris lewat uji lapangan pada paket program yang dikembangkan. Paket program
diuji-cobakan dengan memilih sampel yang representatif. Program pembelajaran
perlu memperhatikan:
1.Kebenaran
bahan ajar.
2.
Ketepatan antara program dengan populasi pengguna.
3.
Kesederhanaan program.
4.
Efisiensi penggunaannya.
5.
Reliabilitas
Apabila
dibandingkan pendidikan konvensional, dalam prosesnya e-learning sebagai media distance
learning menciptakan paradigma baru, yakni peran guru yang lebih bersifat
“fasilitator” dan siswa sebagai “peserta aktif” dalam proses belajar-mengajar.
Karena itu, guru dituntut untuk menciptakan teknik mengajar yang baik, menyajikan
bahan ajar yang menarik, sementara siswa dituntut untuk aktif berpartisipasi
dalam proses belajar. Namun dalam banyak kenyataan, jarang sekali ditemui distance
learning yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilaksanakan dengan e-learning
atau online learning. E-learning hanyalah sebagai media penunjang pendidikan
dan bukan sebagai media pengganti pendidikan.
Selasa, 21 Februari 2017
TUGAS TERSTRUKTUR PERTEMUAN KE-2 DAN KE-3
1. Menurut
cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang
dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga
asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia.
Jawab:
Teori kognitif merupakan salah satu
teori yang paling mendasar dalam proses pembelajaran dari pada
teori Behavioristik dan Konstruktifistik. Teori kognitif lebih mementingkan
proses belajar atau proses menuju pemahaman mengenai sesuatu hal. Berbeda dengan teori Behavioristik yang lebih mementingkan hasilnya. Para pakar
teori kognitif seperti Piaget, Bruner, dan Ausubel memberikan makna tersendiri
tentang teori kognitif. Menurut Piaget kegiatan belajar terjadi bersamaan
dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta
melalu proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Tiga asumsi yang mendasari
teori kogitif tentang multimedia learning, yakni:
a. dual-channel (saluran ganda),
b. limited-capacity (kapasitas terbatas),
c. active-processing (pemrosesan-aktif).
a. dual-channel (saluran ganda),
b. limited-capacity (kapasitas terbatas),
c. active-processing (pemrosesan-aktif).
Pada teori kognitif pembelajaran
multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa
prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan
e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri
dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan
pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research)
dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan
hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer,
2011).
Oleh karena karya sentral
multimedia learning berlangsung dalam memori kerja atau working memory. Memori
kerja digunakan untuk penyimpanan sementara dan memanipulasi pengetahuan dalam
kesadaran pikiran aktif. Sejalan dengan asumsi kapasitas terbatas, memori kerja
memang terbatas dalam proses jumlah pengetahuan dalam suatu waktu tertentu.
Jadi, hanya sejumlah citra yang bisa ditampung di saluran visual dalam memori
kerja pada suatu waktu. Hanya sejumlah kecil suara yang bisa ditampung di
saluran auditori dalam memori kerja pada suatu waktu.
1. Asumsi Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2. Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3. Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasukakalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.
1. Asumsi Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2. Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3. Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasukakalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.
Contoh
media yang relevan dalam pembelajaran kimia adalah powerpoint ataupun video
pembelajaran. Untuk dapat menentukan media yang akan dipakai, kita juga harus
paham materi apa yang ingin kita sampaikan. Se;ain materi, hal penting lain
yang harus diperhatikan adalah karakteristik peserta didik, lingkungan
disekitar peserta didik, serta ketersediaan sarana. Salah atu contoh, dalam
materi ikatan kimia, media yang dapat digunakan adalah power point, yaitu dengan menampilkan struktur
ikatan kimia. Jika tidak terdapat alat yang mendukung dapat juga menggunakan
molimod. Untuk menerapkan media tersebut harus diperhatikan juga mengenai
prinsip dasar multimedia dan teori pemrosesan informasi agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia.
2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia.
Jawab:
Teori dual coding dicetuskan oleh Alan Pavio (Paivio, 1971, 2006) yang menyatakan bahwa informasi yang
diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel,
yaitu channel verbal
seperti teks dan suara, dan channel visual (nonverbal image) seperti
diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik
secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski,
Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang
berbeda. Channel verbal
memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau
paralel.
Menurut Pavio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut Pavio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory
memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan
verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational
connection) terbentuk untuk menemukan channel yang
sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal,
representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal,
representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut
dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari
wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal
disebut logogen sedangkan representasi informasi
yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Sebagai tambahan kesimpulan dari
teori dual coding ini jika dikaitkan dengan
bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori
ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara
menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang
tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior
knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki
masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran
yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru
yang disampaikan.
(Sumber:http://www.penerbitduta.com/read_article/2016/3/kajian-teori-dual-coding-theory#.WKzWTFcbOT8
)
TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
Pada hakikatnya model pembelajaran dengan pemerosesan
informasi didasarkan pada teori belajar kognitif. Model pembelajaran tersebut
berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistem yang dapat
memperbaiki kemampuan belajar siswa. Pemrosesan informasi menunjuk kepada
cara-cara mengumpulkan atau menerima stimulus dari lingkungan, mengorganisasi
data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah serta
menggunakan simbol-simbol verbal dan non-verbal.
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari
teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori
belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti
psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun
yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem
informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses
belajar.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa
pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini,
belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap
sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang
lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan
bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi
yang dipelajari.
Salah
satu teori yang membahas bagaimana proses berpikir manusia dikemukakan oleh
Atkinson dan Shiffrin pada tahun 1968. Kedua ahli psikologi kognitif ini
berhasil memaparkan bagaimana perangkat berpikir manusia beserta proses yang
terjadi secara jelas, logis dan sederhana. Teori mereka berdua dikenal dengan
teori pemrosesan informasi. Teori ini telah banyak dimanfaatkan, termasuk di
bidang pendidikan dan komputer.
Informasi
diterima oleh manusia melalui indera. Penerima informasi awal pada indera ini
disebut sebagai memori sensorik (sensory memory). Menurut penelitian,
informasi dari penglihatan hanya dapat bertahan kurang dari sedetik di memori
sensorik, sedangkan informasi dari pendengaran dapat bertahan tiga sampai empat
detik. Jika perhatian tidak diberikan pada informasi tersebut maka mereka akan
hilang. Namun jika perhatian diberikan maka informasi akan diteruskan menuju
memori jangka pendek (short term memory) yang dapat mempertahankan
informasi hingga 15 detik.
Berdasar
penjelasan tersebut kita dapat menyadari akan peran penting perhatian atau
konsentrasi dalam memproses suatu informasi. Ratusan atau ribuan informasi
sebenarnya berada di depan kita setiap saat. Namun jika kita tidak
memperhatikannya maka sekian banyak informasi itu tidak akan memasuki pikiran.
Apa
yang terjadi pada informasi di memori jangka pendek? informasi tersebut juga
akan hilang jika kita tidak mengulang-ngulang perhatian padanya. Namun jika
pengulangan dilakukan maka informasi dapat diteruskan ke memori jangka panjang
(long term memory). Para peneliti menyatakan bahwa memori jangka panjang
dapat menyimpan informasi sangat lama, tergantung pada penggunaannya. Jika
teknik untuk meneruskan informasi ke memori jangka panjang adalah melalui
pengulangan, kita menyebutnya sebagai proses menghafal atau mengingat.
Cara
kedua untuk meneruskan informasi ke memori jangka panjang adalah dengan
memahami (encoding). Maksudnya adalah menghubungkan informasi baru
tersebut dengan berbagai informasi lama yang telah kita miliki (tersimpan dalam
memori jangka panjang sebelumnya). Cara kedua ini diyakini membuat informasi
dapat lebih tahan lama di memori kita. Selain itu dengan memahami maka semua
informasi akan lebih bermanfaat dalam aplikasi kehidupan sehari-hari.
Berbagai
informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang, sewaktu-waktu dapat
dipanggil oleh memori jangka pendek jika kita memerlukannya (misalnya ketika
menghadapi masalah tertentu). Hingga saat ini para ahli belum dapat menentukan
secara pasti berapa kapasitas penyimpanan memori jangka panjang manusia. Karena
itu dikatakan bahwa kapasitas memori jangka panjang kita tidak terbatas.
Berdasarkan
teori pemrosesan informasi ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
oleh para guru:
1.
Perhatian sangat penting, oleh karena itu selalu upayakan agar siswa anda
benar-benar
memperhatikan pelajaran. Meskipun mereka tampak melihat anda, namun
belum tentu pikiran
mereka perhatian kepada apa yang anda jelaskan.
2.
Sebaiknya lebih mengutamakan belajar dengan memahami dari pada melalui hafalan.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very
special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is
called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a
cognitive strategy is a control process. An internal process by means of
which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan
belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat
distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses
yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan
dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa
yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah
dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan :
siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu
kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan :
apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk
menerima pelajaran.
4. Fase retensi :
informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke
memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan :
pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep
khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase
generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat
diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan :
tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi
individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum
belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik :
para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang
menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran
mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan
bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung
dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh behavioristik dianggap
metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang
membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur kecepatan spontanitas
kelenturan daya tahan. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak
yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan metode ini adalah
pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat mekanistis dan hanya
berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya mendengarkan,
menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter.
Proses informasi dalam ingatan dimulai dari proses
penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (stroge)
dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informas-informasi yang telah
disimpan dalam ingatan (retrival).[8]
Teori belajar pemerosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan
proses internal yang mencakup beberapa tahapan.
Encoding adalah proses
memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem syaraf menggunakan kode internal
yang merepresentasikan stimulus eksternal. Dengan cara ini representasi
objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi informasi internal dan siap
disimpan.
Stroge
adalah
informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek kemudian diteruskan untuk
diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka panjang. Namun tidak semua
informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan. Kunci penting dalam
penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi yang cukup untuk
mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka pendek.
Retrieval adalah hasil
akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan informasi yang disimpan.
Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan tidak hanya tersedia tetapi
juga dapat diperoleh karena meskipun secara teoritis informasi yang disimpan
tersedia tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan dan menempatkannya.
Teori ini ditemukan oleh Gagne
yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses
belajar manusia. Penelitiannya diamksudkan untuk menemukan teori pembelajaran
yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar,
yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik)
agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Teori pemrosesan informasi umumnya
berpijak pada tiga asumsi berikut :
1.
Antara stimulus dan respon berpijak pada asumsi, yaitu pemrosesan informasi
ketika pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu
2.
Stimulus yang diproses melalui tahap-tahapan tadi akan mengalami perubahan
bentuk ataupun isinya
3.
Salah satu tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut,
dikembangkan teori tentang komponen, yaitu komponen struktur dan pengatur alur
pemrosesan informasi (proses kontrol). Komponen-komponen pemrosesan informasi
dipilih berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas bentuk informasi, serta proses
terjadinya ”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut :
a. Sensory Receptor
(SR)
Sensory Receptor adalah
sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi
ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya bertahan dalam waktu yang
sangat singkat dan mudah tergangu atau berganti.
b. Working Memory (WM)
Working Memory diasumsikan mampu menangkap informasi yang mendapat
perhatian individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi. Karekateristik Working
Memory adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan
15 detik jika tidak diadakan pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam
bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi dapat
bertahan dalam WM, upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas disamping
melakukan pengulangan.
c. Long Term Memory
(LTM)
Long Term Memory diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah
dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa
sekali informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau
hilang. Sedangkan lupa adalah proses gagalnya memunculkan kembali informasi yang
diperlukan. Tennyson mengemukakan proses penyimpanan informasi merupakan proses
mengasimilisasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang
selanjutnya berfungsi sebagai dadar pengetahuan.
Pada taraf aplikasi, teori sibernetik
dalam pembelajaran telah banyak dikembangkan, diantarannya adalah
pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi. Berdasarkan
pendekatan ini Reigeluth, Bunderson, dan Merril mengembangkan strategi penataan
isi atau materi pembelajaran berdasarkan empat hal, yakni pemilihan, penataan
urutan, rangkuman dan sintesis.
Teori pemrosesan informasi memiliki
keunggulan dalam strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut :
1.
Cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
2.
Penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis
3.
Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap
4.
Adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai
5.
Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya
6.
Kontrol belajar memungkinkan belajaar sesuai irama masing-masing individu
7.
Balikan informatif memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk
kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.
Diasumsikan,
ketika individu belajar, di dalam dirinya
berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem
yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam long-term memory
(materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah
(materi kreativitas).
Pengetahuan
yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka
panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam
pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana
pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh
interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari
elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi,
warna, musik, serta video. Studi tentang bagaimana
informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan
dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan
bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan
multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia
berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen
pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi bermultimedia
yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan
pada stimulus elemen-elemen pesan tersebut. Proses penyeleksian,
pengorganisasian, serta pengintegrasian elemen-elemen informasi tersebut.
Dalam
mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang
disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik.
Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi,
misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer.
Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi,
misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu
pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang
diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai
contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat
dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar
komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi
kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk
kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah
desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah
pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan
informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang
berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi
(Pranata, 2004). Beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan
multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan
kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia
memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi
visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja
auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki
kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa
penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika
informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke
dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan
Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori
pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan
informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja
visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua
memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi
yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah
sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori,
seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu
pesan multimedia.
Langganan:
Postingan (Atom)
