MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA
Selasa, 14 Maret 2017
TUGAS TERSTRUKTUR DUA
Pada postingan kali ini kelompok saya membuat alat peraga untuk materi tingkat SMP
Disini kelompok saya mengambil materi mengenai Teori Atom Rutherford. Alat peraga yang kelompok saya ini berasal dari barang-barang bekas yang ada di sekitar kita. Untuk melihat prinsip kerjanya dapat langsung melihat video yang dapat diakses melalui link dibawah ini :
https://youtu.be/Jii-ORs24-k
PRESENTASI E-LEARNING HASIL PENGEMBANGAN
Pada postingan kali ini kelompok saya menggunakan aplikasi pada situs Edmodo untuk membuat program e-learning pada www.edmodo.com. aplikasi ini memungkinkan terjadinya pembelajaran antara guru dan siswa secara online.
Berikut beberapa gambar dari e-learning yang kelompok saya buat dimana saya berperan sebagai guru.
PRESENTASI MULTIMEDIA PEMBELAJARAN KIMIA HASIL PENGEMBANGAN
Pada postingan kali ini, saya akan menampilkan powerpoint dari kelompok 1 yang telah ditampilkan di kelas dan sudah mengalami revisi untuk menyempurnakannya. Gambarnya dapat dilihat dibawah ini :
Sabtu, 04 Maret 2017
PERSENTASE MULTIMEDIA PEMBELAJARAN KIMIA HASIL PENGEMBANGAN
Pada postingan kali ini, saya akan menampilkan salah satu multimedia pembelajaran kimia hasil pengembangan. Diharapkan multimedia ini dapat digunakan untuk membantu dalam proses pembelajaran.
Materi yang kami ambil adalah redoks pada buah apel.
Kami adalah kelompok 1 dengan delapan orang anggota.
Terlihat hasil dari percobaan kami.
Untuk melihat lebih lanjut dapat diakses pada link berikut ini: https://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=Bw_LYCYEELM&t=26
Materi yang kami ambil adalah redoks pada buah apel.
Kami adalah kelompok 1 dengan delapan orang anggota.
Terlihat hasil dari percobaan kami.
Untuk melihat lebih lanjut dapat diakses pada link berikut ini: https://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=Bw_LYCYEELM&t=26
Selasa, 28 Februari 2017
PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Mata
pelajaran kimia sering dianggap sebagai pelajaran yang sulit karena materi
kimia merupakan materi yang bersifat abstrak. Sebagian besar ilmu kimia merupakan
ilmu percobaan dan sebagian besar pengetahuannya diperoleh dari penelitian di laboratorium
(Chang, 2003). Belajar kimia pada dasarnya berangkat dari fakta yang ditemukan
menuju konsep mikroskopik dan submikroskopik yang kemudian disimbolkan. Sehingga
siswa cenderung lebih sulit memahami konsep mikroskopik dan submikroskopik tersebut.
Sehingga perlu dikembangkan alat bantu berupa media pembelajaran yang dapat memberikan
pengalaman yang menyeluruh dari fakta (makroskpik) menuju konsep abstrak (mikroskopik
dan sub mikroskopik).
Pembelajaran
kimia pada umumnya hanya terbatas pada penggunaan bahan ajar berupa buku teks
dan LKS sehingga siswa kurang dapat memahami konsep mikroskopik. Lemahnya
interaksi antara guru dengan siswa serta kecepatan belajar siswa yang
seringkali dianggap sama juga merupakan kendala dalam pembelajaran kimia, maka
dari itu usaha-usaha peningkatan kualitas pembelajaran kimia saat ini terus dilakukan,
termasuk peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi media pembelajaran.
Peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi media pembelajaran diharapkan
mampu mengakomodir kebutuhan siswa dalam menghadapi era teknologi informasi dan
komunikasi dengan tidak meninggalkan faktor pemahaman dan keterampilan siswa
dalam proses pembelajaran kimia. Teknologi informasi dan komunikasi seharusnya
menjadi alat sehari-hari dalam kegiatan belajar dan membelajarkan (Sitepu,
2008). Salah satu penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah
pemanfaatan internet dalam proses pembelajaran yang disebut dengan e-learning.
E-learning dapat diimplemantasikan dengan menggunakan alternatif tools yang
disebut dengan LMS (Learning Management System).
E-learning
yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi, komunikasi
dan informasi khususnya internet (Kwartolo, 2010). Sedangkan menurut Hartley
(2001), e-learning merupakan jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya
bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media
jaringan komputer lain. Secara umum e-learning mampu menyajikan pengalaman
belajar yang bermakna melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi.
E-learning memiliki beberapa keunggulan yaitu dapat memfasilitasi komunikasi
dan interaksi antara siswa dengan tenaga pengajar dan narasumber ahli, meningkatkan
kolaborasi antar siswa untuk membentuk komunitas belajar, mendorong siswa untuk
secara mandiri mencari sumber belajar dan mencapai makna, memberikan akses
keapada beragam sumber belajar (Pannen, 2005). Komunikasi dalam e-learning dilaksanakan
dengan dua cara yaitu secara langsung (synchronous training) dan tidak langsung
(asynchronous training). Menurut Susanti dan Sholeh (2008), synchronous
training adalah tipe proses kegiatan belajar mengajar yang terjadi bersamaan,
sedangkan asynchronous training adalah tipe pelatihan dimana proses
pembelajaranan tidak terjadi pada waktu yang bersamaan. Contoh synchronous
training terjadi pada saat kegiatan chat dan forum diskusi dimana guru dan
siswa melakukan kegiatan online pada saat bersamaan dan terjadi interaksi. Sedangkan
contoh kegiatan asynchronous training adalah ketika siswa belajar dan
mengajukan pertanyaan dalam e-learning, akan tetapi guru tidak menjawab pada
saat yang bersamaan. Namun, terdapat beberapa kelemahan e-learning yaitu
e-learning membutuhkan dukungan jaringan yang tepat dan stabil, banyak guru
yang belum siap menggunakan e-learning dan memanfaatkan internet dalam proses
pembelajaran, serta keterbatasan jumlah computer yang dimiliki siswa juga dapat
menghambat penggunaan e-learning.
Langkah-langkah
Penyusunan Program Sistem Pembelajaran Berbasis E-Learning
a. Perencanaan
Awal
1. Mengidentifikasi
tujuan, kebutuhan dan masalah yang muncul dalam pembelajaran.
2. Analisis karakteristik siswa yang akan menggunakan dan
pelajari materi yang akan dikembangkan.
3.
Mempertimbangkan strategi pembelajaran.
b.
Menyiapkan Materi
1.
Menguasai materi dan metodologi pengajaran.
2.
Menguasai prosedur pengembangan media.
3.
Menguasai teknik pemograman komputer.
4.
Mengetahui keterbatasan komputer.
c.
Mendesain Paket Program Pembelajaran
Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah memperkenalkan
materi baru untuk melengkapi atau menguatkan pelajaran yang telah berlangsung dengan
media lain.
d.
Menvalidasi Paket Program Pembelajaran
Memvalidasi paket program membuktikan validitasnya secara
empiris lewat uji lapangan pada paket program yang dikembangkan. Paket program
diuji-cobakan dengan memilih sampel yang representatif. Program pembelajaran
perlu memperhatikan:
1.Kebenaran
bahan ajar.
2.
Ketepatan antara program dengan populasi pengguna.
3.
Kesederhanaan program.
4.
Efisiensi penggunaannya.
5.
Reliabilitas
Apabila
dibandingkan pendidikan konvensional, dalam prosesnya e-learning sebagai media distance
learning menciptakan paradigma baru, yakni peran guru yang lebih bersifat
“fasilitator” dan siswa sebagai “peserta aktif” dalam proses belajar-mengajar.
Karena itu, guru dituntut untuk menciptakan teknik mengajar yang baik, menyajikan
bahan ajar yang menarik, sementara siswa dituntut untuk aktif berpartisipasi
dalam proses belajar. Namun dalam banyak kenyataan, jarang sekali ditemui distance
learning yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilaksanakan dengan e-learning
atau online learning. E-learning hanyalah sebagai media penunjang pendidikan
dan bukan sebagai media pengganti pendidikan.
Selasa, 21 Februari 2017
TUGAS TERSTRUKTUR PERTEMUAN KE-2 DAN KE-3
1. Menurut
cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang
dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga
asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia.
Jawab:
Teori kognitif merupakan salah satu
teori yang paling mendasar dalam proses pembelajaran dari pada
teori Behavioristik dan Konstruktifistik. Teori kognitif lebih mementingkan
proses belajar atau proses menuju pemahaman mengenai sesuatu hal. Berbeda dengan teori Behavioristik yang lebih mementingkan hasilnya. Para pakar
teori kognitif seperti Piaget, Bruner, dan Ausubel memberikan makna tersendiri
tentang teori kognitif. Menurut Piaget kegiatan belajar terjadi bersamaan
dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta
melalu proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Tiga asumsi yang mendasari
teori kogitif tentang multimedia learning, yakni:
a. dual-channel (saluran ganda),
b. limited-capacity (kapasitas terbatas),
c. active-processing (pemrosesan-aktif).
a. dual-channel (saluran ganda),
b. limited-capacity (kapasitas terbatas),
c. active-processing (pemrosesan-aktif).
Pada teori kognitif pembelajaran
multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa
prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan
e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri
dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan
pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research)
dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan
hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer,
2011).
Oleh karena karya sentral
multimedia learning berlangsung dalam memori kerja atau working memory. Memori
kerja digunakan untuk penyimpanan sementara dan memanipulasi pengetahuan dalam
kesadaran pikiran aktif. Sejalan dengan asumsi kapasitas terbatas, memori kerja
memang terbatas dalam proses jumlah pengetahuan dalam suatu waktu tertentu.
Jadi, hanya sejumlah citra yang bisa ditampung di saluran visual dalam memori
kerja pada suatu waktu. Hanya sejumlah kecil suara yang bisa ditampung di
saluran auditori dalam memori kerja pada suatu waktu.
1. Asumsi Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2. Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3. Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasukakalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.
1. Asumsi Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2. Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3. Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasukakalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.
Contoh
media yang relevan dalam pembelajaran kimia adalah powerpoint ataupun video
pembelajaran. Untuk dapat menentukan media yang akan dipakai, kita juga harus
paham materi apa yang ingin kita sampaikan. Se;ain materi, hal penting lain
yang harus diperhatikan adalah karakteristik peserta didik, lingkungan
disekitar peserta didik, serta ketersediaan sarana. Salah atu contoh, dalam
materi ikatan kimia, media yang dapat digunakan adalah power point, yaitu dengan menampilkan struktur
ikatan kimia. Jika tidak terdapat alat yang mendukung dapat juga menggunakan
molimod. Untuk menerapkan media tersebut harus diperhatikan juga mengenai
prinsip dasar multimedia dan teori pemrosesan informasi agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia.
2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia.
Jawab:
Teori dual coding dicetuskan oleh Alan Pavio (Paivio, 1971, 2006) yang menyatakan bahwa informasi yang
diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel,
yaitu channel verbal
seperti teks dan suara, dan channel visual (nonverbal image) seperti
diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik
secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski,
Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang
berbeda. Channel verbal
memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau
paralel.
Menurut Pavio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut Pavio, kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory
memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan
verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational
connection) terbentuk untuk menemukan channel yang
sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal,
representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal,
representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut
dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari
wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal
disebut logogen sedangkan representasi informasi
yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Sebagai tambahan kesimpulan dari
teori dual coding ini jika dikaitkan dengan
bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori
ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara
menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang
tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior
knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki
masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran
yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru
yang disampaikan.
(Sumber:http://www.penerbitduta.com/read_article/2016/3/kajian-teori-dual-coding-theory#.WKzWTFcbOT8
)
Langganan:
Postingan (Atom)











