Pengertian media mengarah pada sesuatu yang
mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan
penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan
dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam
Latuheru,1988:11).
Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi
medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan
penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp
dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi
adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari
pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).
Media adalah segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat si penerima pesan. Di
dalam proses penyampaian informasi ini dengan menggunakan saluran (media) maka
komunikan akan menerima informasi/pesan tersebut melalui kelima panca inderanya
(penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecap).
Jerold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4)
mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara
lain:
- Kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)
- Faktor ukuran (size); besar atau kecil
- Faktor warna (color): hitam putih atau berwarna
- Faktor gerak: diam atau bergerak
- Faktor bahasa: tertulis atau lisan
- Faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau gabungan antara gambar dan suara.
Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan,
serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka
yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat
(bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan
maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru
maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga
belajar). (Latuheru,1988:13).
Multimedia adalah media yang
menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafik,
gambar, foto, audio, dan animasi secara terintegrasi. Multimedia
terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linear, dan multimedia
interaktif. Multimedia linear adalah suatu multimedia
yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat
dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial
(berurutan), contohnya TV dan film.
Multimedia
interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat
pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna
dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh
multimedia interaktif adalah: multimedia pembelajaran interaktif,
aplikasi game dll.
Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai
proses penciptaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar.
Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar.
Belajar dalam pengertian aktivitas mental siswa dalam berinteraksi
dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat
relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam
aktivitas belajar dan pembelajaran adalah lingkungan. Bagaimana
lingkungan ini diciptakan dengan menata unsur-unsurnya sehingga dapat
merubah perilaku siswa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi
multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, dengan kata lain
untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap) serta dapat
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan yang belajar
sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan
terkendali.
Penggunaan
media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas
prestasi belajar. Diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif, interaktif,
dan efisien. Adapun beberapa landasan dalam penggunaan media pembelajaran,
adalah sebagai berikut:
1.
LANDASAN FILOSOFIS
Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai
jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses
pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam
pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat
kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat
belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak
berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu
muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses
pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki
kepribadian, harga diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda
dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak,
proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
2.
LANDASAN PSIKOLOGIS
Landasan psikologis penggunaan
media pembelajaran ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran
dipergunakan, ditinjau dari kondisi pembelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi.
Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya
ketrampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap seseorang yang telah belajar.
Pengetahuan dan pengalaman itu diperoleh melalui pintu gerbang alat indera
pebelajar karena itu diperlukan rangsangan (menurut teori Behaviorisme) atau
informasi (menurut teori Kognitif), sehingga respons terhadap rangsangan atau
informasi yang telah diproses itulah hasil belajar diperoleh.
Jean Piaget mengemukakan bahwa
seseorang memiliki tingkatan berfikir sesuai dengan perkembangan usianya.
Menurut Piaget perkembangan berfikir itu mulai tingkat sensori motor (0-2th),
tingkat pra operasional (2-7th), tingkat operasional kongkrit (7-11th), dan
tingkat operasi formal (11-ke atas). Manusia belajar melalui pergaulannya
dengan lingkungannya. Dalam pengenalan lingkungan itu, pebelajar melalui tiga
tahapan belajar, yaitu tingkat kongkrit, tingkat skematis dan tingkat abstrak.
Dengan
memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan
media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar.
Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas
dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal
agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Untuk maksud
tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik
perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan
pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian
psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit
ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum konkrit-abstrak dan kaitannya
dengan penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat.
·
Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses
pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau
film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan
simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut
Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang
dewasa.
·
Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari
media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia
membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling
abstrak.
·
Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai
dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa
sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap
kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat
kejadian yang disajikan dengan simbol.
Salah satu
gambaran yang paling banyak digunakan acuan sebagai landasan teori penggunaan
media dalam pembelajaran adalah kerucut pengalaman Dale (Dale’s Cone of
Experience).
Dalam
proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan
kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam
menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan
pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale diatas mengklasifikasikan media
berdasarkan pengalaman belajar yang akan diperoleh oleh peserta didik, mulai
dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui
gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat abstrak. Materi yang ingin
disampaikan dan diinginkan peserta didik dapat menguasainya disebut sebagai
pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan-pesan dalam simbol-simbol
tertentu (encoding) dan peserta didik sebagai penerima menafsirkan
simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).
3.
LANDASAN TEKNOLOGIS
Sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi dan
informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh
terhadap pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin besar
terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat
pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola tradisional, karena
cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan. Banyak yang
dharapkan dari alat- alat teknologi pendidikan yang membantu mengatasi berbagai
masalah pendidikan sehingga dapat membantu siswa belajar secara
individual dengan efektif dan efisien.
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan,
pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar.
Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang
melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis
masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola
pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai
tujuan dan terkontrol.
Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan
dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun
dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan
sehingga menjadisistem pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen ini
termasuk pesan, orang, bahan, media, peralatan, teknik, dan latar.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan
peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di
bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi
kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
1.
Meningkatkan produktivitas
pendidikan ( Can make education more productive). Dengan media dapat
meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju
belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan
mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak
membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
2.
Memberikan kemungkinan pembelajaran
yang sifatnya lebih individual (Can make education more
individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam
variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran,
dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan
dan kesempatan belajarnya.
3.
Memberikan dasar yang lebih ilmiah
terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base). Artinya
perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan
pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa,
karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan
disaign pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
4.
Lebih memantapkan pembelajaran (Make
instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
5.
Dengan media membuat proses
pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more
immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta didik dan
sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam
memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak secara
langsung.
6.
Memungkinkan penyajian pembelajaran
lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal)
4.
LANDASAN EMPIRIS
Temuan-temuan
penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media
pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar
siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar
dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya
belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh
keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram,
video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan
lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau
ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar
tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan rasional
empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar
kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik
pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
5.
LANDASAN HISTORIS
Yang dimaksud dengan landasan
historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran
ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya
konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923. Yang
dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah
setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual
yang nyata kepada pebelajar.
Kemudian kosep pengajaran visual
ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education”
yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama
seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual
devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan
oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan
telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut
Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya
adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun
1950-an. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya
konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda
dengan konsepsi sebelumnya. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan
konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”,
“learning resources”.
assalamu'alaikum wr.wb. saya frandi mardiansyah, saya ingin bertanya tentang postingan blog anda di atas. pada landasan filosofis dikatakan bahwa multimedia ini nanti akan berdampak terjadinya dehumanisasi. nah bagaimana cara kita mengubah pandangan tersebut?
BalasHapussaya ingin mencoba menjawab pertanyaan dari saudara frandi :
HapusDehumanisasi adalah kemerosotan tata-nilai. Mereka yang menjadi korban dehumanisasi kehilangan kepekaan kepada nilai-nilai luhur, seperti kebenaran, kebaikan, keindahan(estetik) dan kesucian. Mereka hanya peka dan menghargai nilai-nilai dasar, seperti materi (pemilikan kekayaan), hedonisme (kenikmatan jasmani) dan gengsi (prestise). Terjadi dehumanisasi pendidikan bisa disebabkan pola penanaman pendidikan kurang menyentuh karakter manusia, sehingga yang terjadi adalah pengeropsan esensi pendidikan yang pada akhirnya akan melemahkan fungsi manusia sebagai manusia.
Untuk mengatasi masalah dehumanisasi pendidikan yang saat ini mengancam pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia, diperlukan penanaman nilai-nilai dalam segala aspek penddikan melalui sistem pendidikan berkarakter sehingga pendidikan berkarakter akan terpenuhi dengan baik di Indonesia dan masalah demumanisasi pendidikan bisa terselesaikan.
terima kasih
Terimakasih saudari ismi sudah membantu. Saya sependapat dengan anda.
HapusSaya sependapat dengan saudari ismi saudara frandi, bahwa Untuk mengatasi masalah dehumanisasi pendidikan yang saat ini mengancam pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia, diperlukan penanaman nilai-nilai dalam segala aspek penddikan melalui sistem pendidikan berkarakter sehingga pendidikan berkarakter akan terpenuhi dengan baik di Indonesia dan masalah demumanisasi pendidikan bisa terselesaikan.
HapusAssalamualaikum wr. wb saya ingin menambahkan sedikit tentang :
BalasHapusFungsi Media Pembelajaran
Penggunaan media pembelajaran dapat membantu meningkatkan pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari.
Berikut ini fungsi-fungsi dari penggunaan media pembelajaran menurut AsnawirdanUsman :
1) Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan membantu memudahkan mengajar bagi guru.
2) Memberikan pengalaman lebih nyata (yang abstrak dapat menjadi lebih konkrit)
3) Menarik perhatian siswa lebih besar (kegiatan pembelajaran dapat berjalan lebih menyenangkan dan tidak membosankan).
4)Semuaindra siswa dapat diaktifkan.
5)Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar
Terimakasih saudari siti. Sangat bermanfaat.
HapusAssalamualaikum saya ingin menambahkan sedikit tentang landasan filosofis Menurut Daryanto (2010:12) memaparkan landasan filosofis penggunaan media pembelajaran yaitu bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka baik menggunaka media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
BalasHapusTerimakasih saudari novani. Samgat bermanfaat.
HapusDari ketiga landasan tersebut. Manakah landasan yang paling penting?
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab. Semua landasan sama pentingnya. Karena jika salah satu hilang atau kurang optimal. Maka sistem yang terbentuk tidak sempurna. Terimakasih
Hapussaya ingin menambahkan , edia pembelajaran berbasis
BalasHapuskomputer merupakan variasi penggunaan media dalam pendidikan modern ini.
Media pembelajaran berbasis komputer lebih digemari oleh para siswa
dibandingkan teori konvensional (catatan).
Dalam proses pengembangan media pembelajaran interaktif, tentunya
membutuhkan software yang dapat digunakan dalam pengembangan media.
Software Adobe Flash CS3 merupakan software yang mampu menghasilkan
presentasi, game, film, CD interaktif, maupun CD pembelajaran, buku digital,
serta untuk membuat situs web yang interaktif, menarik, dan dinamis. Maka
dari itu melalui Software Adobe Flash CS3, media Buku digital dibuat untuk
memenuhi kebutuhan para guru dan siswa agar materi lebih mudah dipahami,
meningkatkan kreatifitas, serta dapat menimbulkan ketertarikan dalam
mengikuti pembelajaran seni musik.
Terimakasih. Sangat membantu.
HapusMedia pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Ada beberapa jenis media pembelajaran yaitu, teks, media audio, media visual, media proyeksi gerak, dan manusia. Kata media berasal dari bahasa latin medium yang memiliki arti “perantara” atau “pengantar”. Menurut Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Guruan (Association for Education and Communication technology/AECT) mendefinisikan media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.
BalasHapusDi dalam proses penyampaian informasi ini dengan menggunakan saluran (media) maka komunikan akan menerima informasi/pesan tersebut melalui kelima panca inderanya (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecap).
Lalu, ada beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
1. Landasan filosofis
Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
2. Landasan psikologis
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Untuk maksud tersebut,
Terimakasih. Sangat membantu.
HapusTerimakasih atas penambahannya. Sangat bermanfaat.
BalasHapus