Pada hakikatnya model pembelajaran dengan pemerosesan
informasi didasarkan pada teori belajar kognitif. Model pembelajaran tersebut
berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistem yang dapat
memperbaiki kemampuan belajar siswa. Pemrosesan informasi menunjuk kepada
cara-cara mengumpulkan atau menerima stimulus dari lingkungan, mengorganisasi
data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah serta
menggunakan simbol-simbol verbal dan non-verbal.
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari
teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori
belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti
psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun
yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem
informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses
belajar.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa
pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini,
belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap
sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang
lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan
bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi
yang dipelajari.
Salah
satu teori yang membahas bagaimana proses berpikir manusia dikemukakan oleh
Atkinson dan Shiffrin pada tahun 1968. Kedua ahli psikologi kognitif ini
berhasil memaparkan bagaimana perangkat berpikir manusia beserta proses yang
terjadi secara jelas, logis dan sederhana. Teori mereka berdua dikenal dengan
teori pemrosesan informasi. Teori ini telah banyak dimanfaatkan, termasuk di
bidang pendidikan dan komputer.
Informasi
diterima oleh manusia melalui indera. Penerima informasi awal pada indera ini
disebut sebagai memori sensorik (sensory memory). Menurut penelitian,
informasi dari penglihatan hanya dapat bertahan kurang dari sedetik di memori
sensorik, sedangkan informasi dari pendengaran dapat bertahan tiga sampai empat
detik. Jika perhatian tidak diberikan pada informasi tersebut maka mereka akan
hilang. Namun jika perhatian diberikan maka informasi akan diteruskan menuju
memori jangka pendek (short term memory) yang dapat mempertahankan
informasi hingga 15 detik.
Berdasar
penjelasan tersebut kita dapat menyadari akan peran penting perhatian atau
konsentrasi dalam memproses suatu informasi. Ratusan atau ribuan informasi
sebenarnya berada di depan kita setiap saat. Namun jika kita tidak
memperhatikannya maka sekian banyak informasi itu tidak akan memasuki pikiran.
Apa
yang terjadi pada informasi di memori jangka pendek? informasi tersebut juga
akan hilang jika kita tidak mengulang-ngulang perhatian padanya. Namun jika
pengulangan dilakukan maka informasi dapat diteruskan ke memori jangka panjang
(long term memory). Para peneliti menyatakan bahwa memori jangka panjang
dapat menyimpan informasi sangat lama, tergantung pada penggunaannya. Jika
teknik untuk meneruskan informasi ke memori jangka panjang adalah melalui
pengulangan, kita menyebutnya sebagai proses menghafal atau mengingat.
Cara
kedua untuk meneruskan informasi ke memori jangka panjang adalah dengan
memahami (encoding). Maksudnya adalah menghubungkan informasi baru
tersebut dengan berbagai informasi lama yang telah kita miliki (tersimpan dalam
memori jangka panjang sebelumnya). Cara kedua ini diyakini membuat informasi
dapat lebih tahan lama di memori kita. Selain itu dengan memahami maka semua
informasi akan lebih bermanfaat dalam aplikasi kehidupan sehari-hari.
Berbagai
informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang, sewaktu-waktu dapat
dipanggil oleh memori jangka pendek jika kita memerlukannya (misalnya ketika
menghadapi masalah tertentu). Hingga saat ini para ahli belum dapat menentukan
secara pasti berapa kapasitas penyimpanan memori jangka panjang manusia. Karena
itu dikatakan bahwa kapasitas memori jangka panjang kita tidak terbatas.
Berdasarkan
teori pemrosesan informasi ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
oleh para guru:
1.
Perhatian sangat penting, oleh karena itu selalu upayakan agar siswa anda
benar-benar
memperhatikan pelajaran. Meskipun mereka tampak melihat anda, namun
belum tentu pikiran
mereka perhatian kepada apa yang anda jelaskan.
2.
Sebaiknya lebih mengutamakan belajar dengan memahami dari pada melalui hafalan.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very
special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is
called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a
cognitive strategy is a control process. An internal process by means of
which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan
belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat
distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses
yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan
dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa
yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah
dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan :
siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu
kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan :
apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk
menerima pelajaran.
4. Fase retensi :
informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke
memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan :
pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep
khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase
generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat
diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan :
tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi
individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum
belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik :
para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang
menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran
mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan
bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung
dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh behavioristik dianggap
metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang
membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur kecepatan spontanitas
kelenturan daya tahan. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak
yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan metode ini adalah
pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat mekanistis dan hanya
berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya mendengarkan,
menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter.
Proses informasi dalam ingatan dimulai dari proses
penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (stroge)
dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informas-informasi yang telah
disimpan dalam ingatan (retrival).[8]
Teori belajar pemerosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan
proses internal yang mencakup beberapa tahapan.
Encoding adalah proses
memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem syaraf menggunakan kode internal
yang merepresentasikan stimulus eksternal. Dengan cara ini representasi
objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi informasi internal dan siap
disimpan.
Stroge
adalah
informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek kemudian diteruskan untuk
diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka panjang. Namun tidak semua
informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan. Kunci penting dalam
penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi yang cukup untuk
mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka pendek.
Retrieval adalah hasil
akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan informasi yang disimpan.
Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan tidak hanya tersedia tetapi
juga dapat diperoleh karena meskipun secara teoritis informasi yang disimpan
tersedia tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan dan menempatkannya.
Teori ini ditemukan oleh Gagne
yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses
belajar manusia. Penelitiannya diamksudkan untuk menemukan teori pembelajaran
yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar,
yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik)
agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Teori pemrosesan informasi umumnya
berpijak pada tiga asumsi berikut :
1.
Antara stimulus dan respon berpijak pada asumsi, yaitu pemrosesan informasi
ketika pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu
2.
Stimulus yang diproses melalui tahap-tahapan tadi akan mengalami perubahan
bentuk ataupun isinya
3.
Salah satu tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut,
dikembangkan teori tentang komponen, yaitu komponen struktur dan pengatur alur
pemrosesan informasi (proses kontrol). Komponen-komponen pemrosesan informasi
dipilih berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas bentuk informasi, serta proses
terjadinya ”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut :
a. Sensory Receptor
(SR)
Sensory Receptor adalah
sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi
ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya bertahan dalam waktu yang
sangat singkat dan mudah tergangu atau berganti.
b. Working Memory (WM)
Working Memory diasumsikan mampu menangkap informasi yang mendapat
perhatian individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi. Karekateristik Working
Memory adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan
15 detik jika tidak diadakan pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam
bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi dapat
bertahan dalam WM, upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas disamping
melakukan pengulangan.
c. Long Term Memory
(LTM)
Long Term Memory diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah
dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa
sekali informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau
hilang. Sedangkan lupa adalah proses gagalnya memunculkan kembali informasi yang
diperlukan. Tennyson mengemukakan proses penyimpanan informasi merupakan proses
mengasimilisasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang
selanjutnya berfungsi sebagai dadar pengetahuan.
Pada taraf aplikasi, teori sibernetik
dalam pembelajaran telah banyak dikembangkan, diantarannya adalah
pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi. Berdasarkan
pendekatan ini Reigeluth, Bunderson, dan Merril mengembangkan strategi penataan
isi atau materi pembelajaran berdasarkan empat hal, yakni pemilihan, penataan
urutan, rangkuman dan sintesis.
Teori pemrosesan informasi memiliki
keunggulan dalam strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut :
1.
Cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
2.
Penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis
3.
Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap
4.
Adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai
5.
Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya
6.
Kontrol belajar memungkinkan belajaar sesuai irama masing-masing individu
7.
Balikan informatif memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk
kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.
Diasumsikan,
ketika individu belajar, di dalam dirinya
berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem
yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam long-term memory
(materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah
(materi kreativitas).
Pengetahuan
yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka
panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam
pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana
pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh
interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari
elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi,
warna, musik, serta video. Studi tentang bagaimana
informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan
dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan
bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan
multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia
berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen
pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi bermultimedia
yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan
pada stimulus elemen-elemen pesan tersebut. Proses penyeleksian,
pengorganisasian, serta pengintegrasian elemen-elemen informasi tersebut.
Dalam
mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang
disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik.
Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi,
misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer.
Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi,
misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu
pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang
diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai
contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat
dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar
komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi
kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk
kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah
desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah
pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan
informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang
berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi
(Pranata, 2004). Beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan
multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan
kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia
memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi
visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja
auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki
kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa
penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika
informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke
dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan
Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori
pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan
informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja
visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua
memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi
yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah
sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori,
seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu
pesan multimedia.
Assalamu'alaikum wr.wb. saya frandi mardiansyah, tadi di postingan anda di atas anda menyinggung masalah teori belajar sibernetik. coba anda beri penjelasan teori belajar sibernetik menurut para ahli?
BalasHapusBaikalah, saya akan mencoba menjawab pertanyaan saudara. Menurut teori sibernetik belajar adalah pemprosesan informasi. Proses memang penting dalam teori sibernetik, namun yang lebih penting lagi adalah system informasi yang diproses. Informasi inilah yang akan menentukan proses.
HapusAssalamu'alaikum wr.wb. saya lukita sari ingin menambahkan sedikit tentang.
BalasHapusTeori belajar yang oleh Gagne (1988) disebut dengan ‘Information Processing Learning Theory’. Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga ‘Information-Processing Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan Informasi’. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
teriakasih.
Terimakasih saudari lukita. Sangat membantu.
HapusBaiklah sheira disini saya ingin bertanya apa yang menyebabkan suatu informasi itu tidak dapat tersimpan di memori jangka panjang? Terimakasih
BalasHapusInformasi tersebut tidak terus diulang sehingga kita akan lupa. Karena informasi yang masuk pada memori jangka pendek hanya tersimpan sesaat.
HapusBaiklah saya akan membantu menjawa pertanyaan saudari lilis . . .
BalasHapusJadi, seperti kita ketahui informasi itu diterima oleh manusia melalui indera. Penerima informasi awal pada indera ini disebut sebagai memori sensorik (sensory memory). Menurut penelitian, informasi dari penglihatan hanya dapat bertahan kurang dari sedetik di memori sensorik, sedangkan informasi dari pendengaran dapat bertahan tiga sampai empat detik. Jika perhatian tidak diberikan pada informasi tersebut maka mereka akan hilang. Namun jika perhatian diberikan maka informasi akan diteruskan menuju memori jangka pendek (short term memory) yang dapat mempertahankan informasi hingga 15 detik.
Berdasar penjelasan tersebut kita dapat menyadari akan peran penting perhatian atau konsentrasi dalam memproses suatu informasi. Ratusan atau ribuan informasi sebenarnya berada di depan kita setiap saat. Namun jika kita tidak memperhatikannya maka sekian banyak informasi itu tidak akan memasuki pikiran.
Sedangkan Menurut, Slavin (2000) Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.Terima kasih . . .
Terimakasih saudara yamin. Saya sependapat dengan saudara.
Hapusbagaimna cara memberikan impuls kepada anak yang memiliki ketrbatasan dalam hal materi pelajaran ?
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab. Menurut saya kita harus memberikan materi dari yang mudah lalu ke tingkat yang lebih sulit. Selain itu juga materi yang kita berikan harus berulang-ulang agar materi twrswbut masuk ke memori jangka panjang.
HapusBagaimana cara kita memanggil kembali ingatan yang ada dalam memori jangka panjang?
BalasHapusDengan cara memancing ingatan dengan pertanyaan yang menarik dan berkaitan dengan ingatan yang ingin kita panggil
Hapusassalamualaikum wr wb,apa yang menyebabkan setiap siswa itu memiliki tingkat kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda?
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab. Menurut saya hal tersebut disebabkan karena intelektual siswa yang berbeda-beda. Selain itu juga hal tersebut karena daya ingat siswa yang berbeda-beda
Hapuswaalaikumsalam, saudari miranda menurut saya, seseorang tersebut dikarenakan ada tingkat adaptasinya yang cepat dan ada pula yang lambat salah satu faktornya yang menghambat seorng siswa dalam menjalani suatu pembelajaran di kelas.
BalasHapusterimakasih
Terimakasih saudari azhabul telah menambahkan
Hapus